Validitas data pilpres 2014 Scan C1 KPU RI

Datum 20140717 00:05:37

On two occasions I have been asked, “Pray, Mr. Babbage, if you put into the machine wrong figures, will the right answers come out?” … I am not able rightly to apprehend the kind of confusion of ideas that could provoke such a question.
—Charles Babbage, Passages from the Life of a Philosopher

Garbage in, garbage out (GIGO) in the field of computer science or information and communications technology refers to the fact that computers, since they operate by logical processes, will unquestioningly process unintended, even nonsensical, input data (“garbage in”) and produce undesired, often nonsensical, output (“garbage out”).

Ini adalah catatan yang merupakan analisa sederhana untuk menunjukkan adanya kemungkinan kelemahan validitas data di system online C1 KPU maupun logic aplikasi yang berada dibelakangnya.

Latar belakang

Pemilu Presiden Republik Indonesia 2014 telah selesai dilaksanakan pada tanggal 9 Juli 2014 yg lalu.

Kondisi politik serta merta menjadi sangat tidak kondusif dimana salah satu calon serta merta mengumumkan dirinya adalah pemenang dengan dasar perhitungan cepat yang dilakukan oleh lembaga survey.

Dan di sisi yang lain, calon yang satunya terpaksa harus mengambil sikap yang tegas yaitu menyatakan juga pihaknya yang mendapatkan suara yang lebih banyak dengan dasar hasil perhitungan cepat dari beberapa lembaga survey yang melakukan hitungan cepat.

Sejak saat itu, kedua kubu saling serang dan saling claim untuk membenarkan pihaknya.

Sementara itu, berdasarkan Undang-Undang Pemilu yan berlaku, Presiden terpilih akan diputuskan berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh KPU dan akan diumumkan pada tanggal 22 Juli 2014.

Hari ini, tanggal 15 Jul 2014, saatnya kita harus meninggalkan persoalan yang berkaitan dengan perbedaan, salah atau benar, metoda dan segala sesuatu yang berkaitan dengan perhitungan cepat, karena di depan mata, kita semua harus yakin bahwa data yang masuk, diproses dan dijadikan dasar untuk memutuskan Presiden terpilih oleh KPU adalah data otentik yang didapatkan langsung dari TPS-TPS dan dalam pencatatan dan perjalanan tidak terjadi apapun yang mengakibatkan data tersebut terkontaminasi atau berubah dengan alasan apapun.

Kita mulai dengan membuka halaman utama Scan C1 – Komisi Pemilihan Umum RI seperti tampak dalam gambar berikut:

C1 KPU Nasional 20140715005237

C1 KPU Nasional 20140715005237

Perhatikan SUMATERA UTARA: 27.378/27.378 TPS 100%
artinya: ada 27.378 TPS dan jumlah TPS yang telah selesai di scan formulir C1 nya adalah sejumlah 27.378 TPS, artinya proses scan dan upload formulir C1 dari prop. Sumatera Utara telah selesai dilakukan, dan progressnya 100%. Dengan kata lain: TIDAK ADA SATUPUN TPS di Sumatera Utara yang belum selesai prosesnya.

Dengan logika bahwa Sumatera Utara telah selesai, maka selanjutnya kita pilih provinsi Sumatera Utara, dan tampak dalam gambar berikut:

C1 KPU Sumatera Utara 20140715005237

C1 KPU Sumatera Utara 20140715005237

Seperti terlihat, sebagian besar Kabupaten/Kota juga menunjukkan progres 100%, tetapi masih ada beberapa yang belum 100%, kita ambil contoh:

  • TAPANULI TENGAH: 514/515 TPS 99,81%
  • ASAHAN: 1.852/1.881 TPS 98,48%

dan setelah dilihat lebih teliti, terlihat perbedaan seperti gambar berikut:

20140715 000537 Selisih

ada 4 Kabupaten/Kota yang proses scan belum selesai dengan total sejumlah 104 TPS.

Dengan melihat data yang disajikan oleh KPU seperti di atas, dan dengan asumsi pada tingkat kabupaten/kota Sumatera Utara sudah benar, kita mendapatkan fakta bahwa:

  • Pada tingkat Nasional, progress dari proses Scan & Upload formulir C1 di provinsi Sumatera Utara seharusnya tidak 100%
  • Pada tingkat Nasional, progress dari proses Scan & Upload formulir C1 di provinsi Sumatera Utara seharusnya 27.274/27.378 TPS (selisih 104 TPS)

Dan apabila asumsi pada tingkat kabupaten/kota Sumatera Utara masih ada kesalahan, kita harus membongkar dan memeriksa data di semua tingkatan dibawahnya dengan logika yang sama dengan yang diterapkan di atas, untuk memastikan pada tingkat mana asalnya kesalahan tersebut.

Ini adalah catatan dalam rangka audit external terhadap data yang disajikan oleh KPU RI dalam Pemilihan Presiden 2014 untuk membantu memastikan ada tidaknya kelemahan dari system tersebut secara adil tanpa tujuan menguntungkan salah satu dari dua calon presiden, dan dari catatan pertama ini, terlihat adanya kemungkinan dimana terdapat:

  1. Data valid yang tersimpan dengan benar
  2. Data tidak valid yang tersimpan dengan benar tapi diformulasikan dengan tidak tepat
  3. Algoritma yang tidak tepat dalam pemrosesan data
  4. Validitas data TPS merupakan data yang sangat penting, dan dengan contoh di atas, katakan saja pada akhirnya terdapat 100 TPS yang tidak masuk datanya, dengan asumsi sangat kasar, 1 TPS ada 100 pemilih, maka suara yang hilang sudah 10.000 suara, dan ini baru di satu propinsi. Sehingga kalau terjadi di banyak provinsi, kemungkinan hilangnya jumlah suara tidak terbayangkan dan bisa jadi mempengaruhi hasil akhir, apapun itu hasilnya.

Feel free to comment

Renungan seorang minoritas yg dicerca kaum minoritas

Sejak ada wacana jokowi (yg waktu itu sdh menjabat Gubernur DKI) akan dimajukan dan/atau maju menjadi capres, saat itu pula saya mulai mengalami berbagai tudingan, serangan, ejekan, pengucilan, dan sebagainya yang merupakan tekanan yang sangat besar terhadap saya, dan yang menyedihkan, tekanan itu datangnya dari kaum minoritas seperti saya, keturunan cina, dan non muslim.

Penyebabnya karena saya pribadi menolak jokowi maju menjadi capres (alasan saya simple: begitu jokowi maju menjadi capres, kredibilitas dia di mata saya habis, karena dia telah berjanji kepada pemilihnya, dan disumpah sesuai dgn agamanya dihadapan Tuhan untuk melaksanakan tugas sebagai Gubernur DKI selama 5 tahun, sesederhana dan sebenar2nya demikian), selain itu saya telah lama memutuskan untuk memilih Prabowo Subianto sebagai capres yang akan saya dukung dan pilih.

Pihak yang menekan saya beranggapan dan berargumentasi demikian (dan argumentasi saya dibawahnya) antara lain:

  • Prabowo adalah penculik aktifis
    Dari catatan sejarah, terbukti bahwa semua orang yang diamankan telah kembali, yang tidak kembali adalah yang diculik oleh kelompok militer lain selain Kopasus.
    Ini adalah bagian dari konflik di tubuh angkatan bersenjata pada saat2 sebelum Soeharto mundur, dan Prabowo cocok menjadi kambing hitam.
  • Prabowo adalah otak kerusuhan May 1998
    Di sini saya tidak perlu melihat kemana-mana, logika sederhana saya bekerja.
    Saat itu (dan saat itu jg saya sudah menganalisa ini) Prabowo menjabat Pangkostrad (membela dan mengamankan Republik Indonesia merupakan tanggung jawabnya), ditambah beliau adalah mantu Presiden Soeharto, saya coba cari apa yang menguntungkan Prabowo seandainya dia benar yang menjadi otak kerusuhan tersebut? TIDAK ADA.
    Prabowo tidak punya MOTIF apapun yang memungkinkan beliau menjadi otak kerusuhan May 1998. Banyak yang menyampaikan bukti ini dan itu, saya sudah membaca semuanya, dan saya berpendapat, bukti-bukti tersebut tidak mendasar dan hanyalah output dari rekayasa yang terkordinir dengan baik.
  • Prabowo dipecat dgn tidak hormat dari TNI
    Kenyataannya, beliau diberhentikan secara hormat, dan tertuang dalam Keputusan Presiden.
  • Prabowo anti cina
    Spekulatif dan tidak mendasar, dan hal yang paling mudah menunjukkan Prabowo anti rasialisme adalah ditunjukknya Basuki Tjahja Purnama sebagai pendamping jokowi di DKI, dan didukung penuh oleh beliau sampai detik ini.
    Diluar itu, silahkan cek, berapa banyak keturunan cina yang menjadi anggota Partai Gerindra ataupun sekedar pendukung.
  • Prabowo anti Kristen
    Ini salah satu tuduhan paling kejam menurut saya, karena Ibundanya (alm) beragama Kristen, adiknya Kristen, kakaknya ada yang Katolik, dan keponakan-keponakan yang dekat dengannya Katolik.
    Keluarga besar Prabowo Subianto sebenarnya adalah gambaran pluralisme kehidupan beragama dalam sebuah keluarga.

dan lain sebagianya, yang pada dasarnya merupakan tuduhan dan fitnah tanpa dasar yang dengan mudah memainkan emosi kaum minoritas terutama, untuk menimbulkan kebencian terhadap Prabowo Subianto.

Buat saya, menjatuhkan pilihan politik merupakan hak azasi saya sebagai warga negara yang dilindungi konstitusi, dan saya berhak menentukan pilihan dan pandangan politik saya secara bebas menurut kehendak dan logika logis saya sendiri, dan siapapun tidak berhak untuk menekan saya menentukan sebaliknya. Dan dalam setiap pilihan pasti ada konsekwensi, dan atas pilihan saya memilih dan mendukung Prabowo Subianto, saya harus menghadapi konsekwensi logis yang sudah saya perkirakan dari awal, tekanan berat terutama dari kaum saya sendiri, kaum minoritas dan non-muslim. Saya bersyukur sampai saat ini saya masih teguh berpegang pada logika sehat saya dan teguh pada pilihan saya, meskipun tekanan yang saya terima sangatlah berat dan menyedihkan.

Terlalu banyak untuk dituliskan satu persatu tekanan yang saya terima, terutama dari sahabat karib saya, saudara, teman, bahkan pemuka agama yang akrab dengan saya. Saking banyaknya, saya merasa tidak akan sanggup menyebutkannya satu persatu, dan menyebutkannya juga tidak akan membawa kita kemana2, hanya akan menimbulkan luka dan kesedihan.

Pelecehan Islam oleh Jakarta Post

Dan saat ini saya sangat sedih mengenai salah satu hal: penistaan agama (dalam hal ini Islam, lihat gambar di atas) oleh sebuah media bernama Jakarta Post, yang merupakan bagian dari group Kompas yang merupakan media didirikan oleh orang Katolik dan salah satu tujuan awalnya adalah untuk membangun Indonesia sebagai partisipasi Katolik. Dan saya beragama Katolik! Dan berdasarkan iman saya sebagai orang Katolik, saya harus hormat dan sangat menghargai agama dan kepercayaan orang lain yang bukan Katolik, apapun itu!

Sangat tragis, memalukan dan menyedihkan, iman yang saya pegang teguh ajarannya telah diperalat oleh sekelompok orang yang seiman dengan saya untuk menistakan agama lain dan dengan sendirinya mempermalukan ajaran agama kami sendiri: Katolik.

Dengan sangat mudah terbayangkan bagaimana reaksi saudara-saudara kita kaum Muslim melihat penistaan ini, di mana-mana muncul protes dan cercaan, dan seruan untuk menuntut Jakarta Post berikut dengan berbagai ancaman. Salahkan mereka? Salahkan saudara-saudara kita kaum Muslim merasa dihina dan emosinya terbangun sehingga sampai sedemikian keras reaksinya?

Sebagian dari anda saudara-saudaraku kaum minoritas punya jawaban: “Ah, itu kan malah membuktikan kalau mereka sebenarnya penuh kekerasan”

Pandangan seperti itu semakin menyesakkan dan menyedihkan, bukannya merasa prihatin dan ikut merasa malu, ini malah mencari pembenaran dengan bonus menyerang sang korban. Benar-benar sangat memalukan.

Dan kita lihat sendiri apa yang terjadi, sampai hari ini. Apakah ada tindak kekerasan yang terjadi akibat hal tersebut? Apakah ada perbuatan melawan hukum dari saudara-saudara kita kaum Muslim yang ajaran agamanya dijadikan bahan ejekan?

TIDAK ADA!

Wow! Hebat sekali? Pernahkan terpikirkan kenapa ini bisa terjadi? Kenapa yang terjadi malah di luar dugaan? Jawab singkat saja:
Prabowo Subianto minta pendukungnya untuk menahan diri dan menghindari semua tindakan yang bisa memecah belah bangsa ini.
Dan perintah ini dilaksanakan oleh seluruh pendukung beliau, tanpa kecuali, walaupun hati panas membara, tapi semuanya menahan diri dan mematuhi perintah orang yang mereka dukung.

Hal ini merupakan bukti bahwa Prabowo Subianto adalah pemimpin sejati, yang memimpin dengan hati, memutuskan dengan akal sehat, sehingga perintahnya dipatuhi oleh pengikutnya, dan ini membesarkan hati saya, terbukti pilihan saya tidak salah, pimpinan yang saya pilih adalah pimpinan yang benar!

Saudara-saudaraku kaum minoritas di Indonesia, bukalah hati kalian, renungkan apa yang saya tulis di atas. Ini bukan ajakan untuk mendukung Prabowo Subianto, ini adalah kisah mengenai betapa kita, kaum minoritas begitu mudah termakan isu/fitnah sehingga membenci orang, tapi di sisi lain yang kita dapatkan, orang yang difitnah dan dibenci kaum minoritas itu malah menyelamatkan bangsa ini dari penderitaan baru yang tak seorangpun sanggup bayangkan, termasuk kaum minoritas seperti kita.

RENUNGKAN, saudara-saudaraku!

Untuk saudara-saudaraku kaum Muslim, dengan penuh kerendahan hati dan kesedihan, saya mohon maaf atas hal yang menyakitkan ini, saya mohon maaf pelakunya adalah media yang dimiliki oleh orang yang seiman dengan saya, dan saya berdoa semoga Tuhan Yang Maha Pengampun memberikan berkatnya agar pengampunan yang melegakan kita semua bisa kita terima.

Jakarta, 13 Jul 2014

Feel free to comment

libssh2.so for native BB OS10

comedy
This is not howto, this is only my notes on how i build libssh2.so in Debian/Linux and cross compile it as share ARM shared library that is useable to use it on Blackberry OS10 devices.

taken that Blackberry Native NDK is installed properly, and libssh2 source downloaded and extracted.

first things first, setup environment for compiling:

  • /home/andy/work/rim/bbndk_bb10.2/bbndk-env_10_2_0_1155.sh
  • export CC=qcc
  • export CFLAGS=” -Vgcc_ntoarmv7le -fPIC “
  • export CPP=” qcc -E -shared “

then run configure + make:

  • ./configure –host armle –disable-examples-build –enable-static –enable-shared
  • make

and since stock libssh2 Makefile does not create shared object, manually created with:

  • qcc -Vgcc_ntoarmv7le -shared *.o -o libssh2.so

libssh2.so now ready to be included in my OS10 application, and here is signature of it:

libssh2.so: ELF 32-bit LSB shared object, ARM, version 1 (SYSV), dynamically linked, BuildID[md5/uuid]=0x8a11675ca9ea93ebfa4f2e2f40ccaf55, not stripped

libssh2.so can be linked and deploy into my Z10 as part of my test application.

Feel free to comment

qmail-ldap clustering for huge+high availability email server

This is not new technology, as a matter of fact, it’s been around since mid or late 1999.

Qmail-ldap, to me is one of the most sophisticated email system ever created which provide virtual user email account, native virtual domains, scalable capacity that able to handle huge amount of virtual domains and millions of email accounts with performace that is hard to bet by oyher email system, wide possibility of customization, lst but not least is implementation of very secure environment start from the design of core components like daemontools, ucspi-tcp, and qmail itself. And the mosinteresting feature of this system is a builtin clustering capabillity that virtually easy to implement.

One ISP here in Jakarta happened to have me helped the to this system from design phase until the system is ready to implement, too bad the thar they lack of commitment drove the migration from old vpopmail based email system to new shinning qmail-ldap cluster email system came to halt.

And about one month ago my own company requires new may system to serve new business that recently developed, and our hosted email system at godaddy will not able to coup our needs, besides that, the cost to buy additional email service at godaddy or else where is outragesly expensive, doesn’t make sense at all.

So I came up with idea to develop qmail-ldap email system instead, and along the way, been thinking of preparing this service commercially, at very low cost AND with virtually no limit on storage space, bandwidh, number of email account per domain, etc.

Rigth now, the single complete production qmail-ldap system along with self managed djbdns is ready, and I’m preparing to accuire new, bigger, faster server for the second system that will be capable to achieve my goal, commercial, affordable, and reliable email system with qmail-ldap clustering.

Update on Wed Nov 7 2012, 04:55:16 +7:

Commercial packaging that has crossed my mind:

  • 1 domain
  • Unlimited email accounts/domain
  • Unlimited mailbox size (noquota)
  • Unlimited forward accounts

with a bonus: unmanaged 1 web hosting space for 1 domain with unlimited space
for only about $80 USD annually.

Enough money talk, now back to the system.

Second system configured, tested, and running today. Everything seems to be perfectly working. So far there’s no integration between these two systems and will be done right after individual system advance test completed. Also DNS servers need to be configured to automatically synch and make sure auto failover runs smoothly.

Front end smtp with also need to be setup, it might required sometimes to get the hardware and setup the system. By the way, this is the big picture of the whole system:

                        +--------------+
                    +-->| qmail-ldap 1 |
                    +   +--------------+
+----------------+  +
| front end smtp |--+
+----------------+  +
                    +   +--------------+
                    +-->| qmail-ldap 2 |
                        +--------------+

and that is just for starter, in the future it will be qmail-ldap 3, 4, 5, etc.

Stay tune for more updates in not so distant future…
Daemontoolsucspi-tcp-ssldjbdnstinydnsjetcoms.netQmailldapclusterclusteringhigh availabilityemail serverafforablegodaddygodaddy mailcheaplolitanudesandyfacebookyesornosharedownloadscandrickifwedateblack dynamitetony dungynflf1girlfriendgirlutsbalisenintaylor swiftjustinbarbiefreegratisbeerdivingphotophotography

Feel free to comment

%d bloggers like this: